“Wujud: Konsepnya merupakan sesuatu yang paling dikenali, tetapi realitasnya yang terdalam adalah sesuatu yang paling tersembunyi”
(Mulla Hadi Sabzawari dalam Syarh – i Manz)
Tulisan ini disarikan dari sebagian penjelasan yang saya dapat dari perbincangan yang “menggoncangkan” bangunan berfikir saya di RFJ Selasa lalu (23/8/05) dengan Ust. Musa Kazhim Alhabsyi. Akibat keterbatasan pemahaman saya mungkin ada banyak hal kekeliruan dari tulisan ini.
Pembahasan mengenai wujud atau eksistensi – studi ontologi adalah perbincangan mengenai sebuah konsep (concept) yang sesungguhnya tidak dapat dikonsepsi lagi (unconseptable). Bisa disebut perbincangan mengenai hal ini adalah perbincangan yang sama sekali tidak akan dapat menjelaskan mengenai subjek wujud itu sendiri. Perangkat untuk menilai dengan subjek pembahasannya sama sekali tidak memadai (inadequate). Pernyataan ini sendiri bukanlah sebuah deduksi yang akan memaksa atau men – drive seluruh penjelasan selanjutnya untuk mendukung pernyataan ini. Sama sekali tidak! Saya mencoba menjelaskan dasar – dasar alasan ataupun argumen dari yang disampaikan yang dapat saya tangkap mengenai hal ini.
Seingat saya beliau menjelaskan hal ini dengan memberikan sebuah contoh mengenai ilmu. Sudah umum bahwa setiap ilmu memiliki subjek pembahasannya masing – masing (subject matter). Misalnya, ilmu fisika, merupakan ilmu yang membahas mengenai hal yang bersifat fisik, atau akuntansi misalnya sebuah ilmu yang menjelaskan mengenai cara kita untuk menyajikan sebuah penilaian terhadap kekayaan. Biasanya secara singkat merujuk pada laporan keuangan dalam bentuk neraca dll.
Ketika ilmu – ilmu diatas dibahas secara bertingkat - gradual - masuk term atau bagian tertentu dari ilmu tersebut, atau pada perkembangan dari ilmu tersebut selanjutnya, maka secara perlahan – lahan ilmu tersebut mulai kehilangan kendali terhadap kesepakatan yang telah dibangun atas konsensus atau sebuah postulat (anggapan) terhadap ilmu tersebut. Lebih jauh bahkan akan meruntuhkan bangunan ilmu tersebut. Dengan kata lain pembahasan tersebut bukan merupakan ilmu itu lagi. Ia kini telah menjadi sebuah subject matter baru. Ketika subjek baru ini didekati, diuraikan, dst, maka hal yang sama pun akan terjadi. Subjek itu pun akan kehilangan lagi bentuknya. Begitu seterusnya tak berujung dan berakhir, hingga pada satu bahasan yang disebut wujud.
Wujud sedemikian jelasnya dan sederhana sehingga dialah yang menjadi muara dari seluruh subjek permasalahan atau eksistensi. Bagaimana menjelaskan hal ini dengan contoh – contoh yang lebih sederhana. Terus terang saya pun terbengong – bengong dengan penjelasan baru ini dan menjadi bingung untuk meng – elaborasi - nya lebih jauh. Berikut saya akan mencoba menjelaskan dengan contoh ilmu ekonomi yang memang menjadi latar belakang sebagian besar studi saya.
Ruang lingkup studi ekonomi cukup luas. Kalau anda pernah membaca misalnya Economics yang menjadi text book perkuliahan, karya Leapsey kita akan menemukan banyak informasi berharga mengenai lingkup ekonomi di awal – awal pembahasannya. Leapsey menyebut scarcity – kelangkaan sumber ekonomi yang mengharuskan manusia dapat memilih dengan tingkat manfaat yang paling maksimum (utility), sehingga kita tidak kehilangan manfaat maksimum (opportunity cost). Leapsey mendorong kita menjelajah lebih jauh pada kajian microeconomics – nya Pyndick dan macroeconomic – nya Blanchard. Dan ilmu itu terus bergulir panjang masuk pada kekhususannya (konsentrasi) masing – masing seperti econometrics dll. Bisa jadi ketika ilmu ekonomi berubah menjadi akuntansi maka muatan ekonomi di awal mulanya sudah lagi kehilangan bentuknya.
Di Indonesia saja, ambil contoh di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FE UI) – dimana saya belajar, terbagi dalam tiga jurusan: manajemen, akuntansi, dan studi ekonomi pembangunan. Di jurusan manajemen tempat saya belajar dibagi lagi menjadi empat konsentrasi: keuangan, pemasaran, SDM, dan syariah.
Ambil salah satu contoh bagaimana cabang – cabang ilmu ekonomi memandang keuntungan (laba). Saya hanya akan membandingkan bagaimana akuntansi memandang laba (accounting profit) dengan kalangan ekonomi (economic profit).
Misalkan anda memiliki uang berlebih, lalu uang tersebut ingin anda investasikan ke dalam sebuah proyek perusahaan perdagangan misalnya. Maka investasi awal ini dalam capital budget sering disebut initial outlay berupa asset lancar (current asset) ataupun asset tetap (fixed asset) biasanya tersaji (terepresentasi) dalam sebuah neraca (balance sheet).
Modal awal tersebut lalu beroperasi selama satu periode misalnya satu tahun, dan menghasilkan perubahan – perubahan. Perubahan ini dalam akuntansi tersaji dalam sebuah laporan rugi laba (income summary). Dengan laporan ini anda dapat mengukur seberapa efektif dan berhasil dana yang anda operasikan. Apakah dana anda tersebut mampu meningkatkan nilai asset anda dengan perubahan yang positif – ini yang disebut dengan profit atau net income, ataukah malah sebaliknya perubahan negatif yang menyebabkan nilai asset anda menurun yang disebut loss ataupun net loss.
Dalam kaitan diatas, akuntansi hanyalah membatasi menyajikan seberapa besar nilai net income/loss sebesar yang tersaji diatas dengan ukuran tertentu (dalam mata uang tertentu). Tentu saja dengan asumsi yang mendasarinya. Bagi yang pernah belajar akuntansi, pasti akan memahami asumsi ini – dalam ilmu akuntansi beberapa asset dinilai berdasarkan beberapa metode tertentu yang diperbolehkan dalam penyusunan laporan keuangan (aktiva tetap dengan metode penyusutannya yang beragam: straight line, double decline dll). Di Indonesia semua itu diatur dan disepakati dalam satu kesepakatan dalam PSAK (Pernyataan Standar Akuntansi).
Sehingga jika anda memiliki dana Rp 1 milyar, lalu dalam setahun dalam perusahaan perdagangan anda mendapatkan laba sebesar Rp 50 juta, maka laba anda adalah hanya sebesar 5%. Anda akan tetap mengatakan dan melaporkan pada pihak yang berkepentingan bahwa perusahaan anda mendapatkan laba – tidak rugi seperti yang akan dikatakan oleh kalangan ekonomi seperti yang akan saya jelaskan nanti dibawah.
Berbeda dengan kalangan akuntansi, kalangan ekonomi memandang secara akuntansi perusahaan diatas memang menguntungkan dengan mendapatkan laba, tapi sesungguhnya perusahaan tersebut mengalami kerugian. Kerugiannya ini disebut sebagai opportunity cost – kerugian akibat tidak menggunakan dana tersebut pada kesempatan untuk mendapatkan keuntungan yang maksimum dengan menginvestasikannya bidang lain.
Seandainya saja uang tersebut di depositokan ke SBI (surat berharga Indonesia) yang tingkat bunganya kini mencapai sekitar 8,3% maka dalam setahun dipastikan asset perusahaan berupa kas akan bertambah sebesar Rp 83 juta melebihi laba perusahaan yang ditanam dalam usaha perdagangan. Besarnya selisih sebesar Rp 33 juta (Rp 83 jt – Rp 50 jt) merupakan kerugian ekonomi (economic loss). SBI dalam manajemen risiko (risk management) sering disebut sebagi risk free.
Pilihan menginvestasikan SBI hanyalah satu dari sekian pilihan investasi. Jika ditemukan adanya pilihan investasi lain yang lebih menguntungkan – tentunya dengan tingkat risiko tertentu, maka kerugiaan secara ekonomi yang menimpa anda dipastikan akan bertambah besar. PSAK tidak mengizinkan pemberlakuan penetapan opportunity cost ini dalam penyajian di laporan keuangan.
Contoh diatas hanya sebagian saja pendekatan untuk membuktikan bahwa tiap kali kita memasuki sebuah ilmu ataupun konsep tertentu maka konsep tertentu tersebut jika diurai kembali, maka akan menghantarkan kita pada satu konsep lain, dan begitu seterusnya.
Dalam ilmu logika misalnya ketika kita ingin mendefinisikan sesuatu maka harus dicarikan terlebih dahulu definisi yang lebih nyata atau benar dari sesuatu yang ingin kita definisikan dengan mencari genus dan menentukan differentia – nya. Barulah kita dapat disebut mendefinisian sesuatu. Definisi sendiri dimaksudkan untuk menjelaskan sesuatu dengan memberi batasan pada sesuatu (define) tersebut – walaupun sesungguhnya kita meyakini bahwa ini bukanlah hakikatnya. Kita “terpaksa” mendefinisikan karena sisi kepraktisan dalam kebutuhan kehidupan kita sehari – hari.
Ketika masuk pada definisi wujud. Maka kalimat ini sesuatu yang kontradiksi didalamnya (contradictio in term). Sama seperti ketika kita mengatkan bahwa saya akan membuat sesuatu utuh dari sisa setengah yang saya miliki. Pekerjaan ini dipastkan mustahil dapat terwujud.
Begitupun dalam wujud. Wujud adalah sesuatu ataupun realitas yang paling universal dan paling dikenal diantara seluruh konsep yang ada, sementara realitasnya adalah sesuatu yang paling tersembunyi, meskipun ia sesungguhnya merupakan sesuatu yang paling nyata. Mustahil untuk mendefinisikan sesuatu yang universal dengan sesuatu yang partikular. Tidak ada istilah yang lebih diketahui secara universal selain dari kata wujud.
Lalu mengapa banyak filosof (yang mengaku filosof) yang sadar ini “malu – malu kucing dan genit” membicarakan sesuatu atau membahas sesuatu yang sesungguhnya amat jelas dan tidak memerlukan penjelasan lagi. Apakah hal ini bukanlah sesuatu kesia – siaan semata. Kontraproduktifkah? Poin inilah yang menyadarkan saya mengapa studi filsafat Islam harus dimulai dari epistemologi. Ini pula yang membukakan mata saya mengapa ilmu hudhuri (presence) merupakan sejatinya ilmu pengetahuan dimana ilmu hushuli (conseptual) bergantung kepadanya – seperti Ayatullah Misbah Yazdi menjelaskan dengan contoh cermin dan bayangan sebagai permisalan dalam buku Daras Filsafat. Dalam lain kesempatan saya akan menyinggungnya kembali hal ini lebih jauh.
Sampai sini saya harus menghentikan tulisan ini. Pembahasan semalam seperti sebuah spektrum, ketika sebuah warna menyinarinya maka dia akan memantulkan beragam warna yang berlainan. Fisika menyebutnya quantum – sebuah lompatan, ekonomi menyebutnya multiple effect, dan matematika menyebutnya ekponensial. Saya sendiri benar - benar merasakan goncangan yang terjadi di kepala saya. Sehingga sejak pagi saya berusaha mengingatnya dan menuliskannya di ruang ini.
Terus terang saya bisa pingsan dengan kalimat – kalimat Ust. Musa jika diteruskan ketika menyatakan bahwa hudhuri (knowledge by presence) itu adalah sebuah perjumpaan (a moment of thruth) dengan Realitas Sejati seperti yang dialami oleh para Nabi as. Lalu beliau menyebutkan kisah Nabi Idris as. (Hermes) dan Nabi Ilyas as. yang merupakan perpaduan harmonis dalam pendekatan kepada Realitas Sejati. Begitupun pengalaman para kekasih – kekasih – Nya lainnya seperti pengalaman Ibn Arabi yang bisa kita baca dalam buku Mencari Belerang Merah ditulis oleh Claude Addas (telah diterbitakan oleh penerbit Serambi). Saya agak merinding ketika menuliskan bagian ini.
Pesan lain yang amat jelas adalah saya mulai mengenali manfaat dan tujuan sesungguhnya dari belajar filsafat. Kalau ada orang yang belajar filsafat namun tidak menemui Tuhan – Nya, pastilah dia telah tertipu oleh filsafat itu sendiri atau jangan – jangan dia telah tertipu oleh dirinya sendiri.
Ala kuli hal, hanya ada satu kata yang dapat saya sampaikan ke Ust. Musa. “Terima Kasih”. Anda telah membuat kami semuanya bergoncang di malam itu. Tulisan inilah salah satu bentuk terima kasih saya kepada anda.
Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa aali Muhammad.
Ilustrasi: Fatamorgana by Zautezee
15:35
Taufiq Haddad
Posted in: 



4 komentar:
Besar, saya menemukan apa yang saya 'lookin telah berlangsung selama
Pikir saya akan komentar dan mengatakan tema rapi, apakah Anda membuatnya sendiri? Benar-benar luar biasa!.
Anda membuat beberapa poin tingkat pertama di sana. Saya anggap di web untuk masalah ini dan terletak kebanyakan orang akan pergi bersama dengan bersama-sama dengan situs web Anda.
Terima kasih telah meluangkan waktu untuk debat ini, saya benar-benar merasa kuat tentang hal itu dan cinta belajar lebih lanjut tentang topik ini . Jika dicapai , karena Anda memperoleh pengalaman , akan Anda keberatan memperbarui weblog Anda dengan info tambahan? Hal ini dapat sangat membantu bagi saya .
Post a Comment