javascript:void(0)

26 July 2005

Amarah Yang Menjerumuskan

*
“Marah adalah kunci dari segala macam keburukan”

(Hadits)

Beberapa waktu lalu saya mendapat pesan pendek, “ Fiq, bisa gak sekarang ke Condet…atau hubungi saya. Penting!”. Ini pesan yang kesekian kalinya saya terima dari orang yang menjadi perantara saya dengan orang yang sangat saya kenal baik, salah satu kerabat dekat saya. Segera saja saya menghubunginya melalui telepon. “Ada apa sebenarnya? Apa yang terjadi?”, tanya saya langsung. Saya menduga pasti ada masalah penting yang terjadi.

Dalam keadaan – keadaan tertentu seperti biasanya, dia selalu menghubungi saya sebagai pihak yang menjadi penengah (dari pihaknya) jika ia menghadapi masalah dalam rumah tangganya. “Sekarang Taufiq, datang saja ke sini. Masalah ini tidak bisa diceritakan lewat telepon”, pintanya. Saya pun mengiyakan.

Selepas makan siang di kantor, saya segera ke tempatnya di Condet. Jarak antara Kemang dan Condet tidak begitu jauh. Saya banyak menghabiskan masa kecil saya di Condet Balekambang bersama almarhumah nenek yang sangat saya cintai. Teman – teman masa kecil saya masih banyak yang tinggal di sana. Sekarang kedua orangtua dan kerabat saya pun banyak yang tinggal di Condet.

Singkat kata, sesampai saya disana tidak terjadi masalah yang benar – benar mengkhawatirkan. Masalahnya telah selesai sebelum saya tiba, yang disampaikan melalui SMS. Namun saya tetap kesana, sekedar ingin mengetahui duduk persoalan yang terjadi. Menurut cerita, yang terjadi hanyalah pertengkaran kecil biasa. Saya pun lega. Saya hanya berpesan agar mereka memilih “menahan diri”. Saya pun kembali ke kantor dengan lebih tenang.

Sepulangnya di benak saya terpikir, kadang – kadang ketika menghadapi sebuah masalah yang pelik kita sering “terburu – buru” ingin menyelesaikannya. Kita sangat impulsif, cenderung mengikuti emosi amarah kita. Emosi amarah lebih berkaitan dengan kerja otak reptil seperti yang ditulis oleh Bobbi Depotter dan Mike Hernacki dalam Quantum Learning yang lebih menuruti insting untuk mempertahankan diri – seperti juga dimiliki oleh hewan. Emosi hanya berfikir penyelesaian jangka pendek. Implikasi dari tindakan amarah ini kadang tidak dipikirkan. Kadang – kadang terjadi tindakan yang berlebihan seperti kekerasan dll. Barulah setelah ada korban biasanya disadari betapa berbahayanya tindakan yang telah diambil.

Sebelumnya saya masih ingat betul, saat itu saya katakan bahwa dalam tindak kekerasan sangat mudah orang memperkarakan dan mengadukan ke pihak berwajib. Cukup hanya dengan bukti visum dari rumah sakit dan kehadiran saksi, proses penangkapan dapat saja dilakukan.

Keesokan harinya, saya malah mendapat SMS baru yang mengatakan bahwa kerabat saya tersebut sekarang ada di Polsek Komseko, Kramat Jati. Sebelumnya sesaat tiba di kantor, rekan saya menyampaikan pesan untuk segera menghubungi seseorang di Polsek Komseko, Kramat Jati. “Ada apa lagi nih?”, pikir saya. “Pikiran saya sudah sangat jauh. Jangan – jangan mereka telah bertindak yang berlebihan”, pikiran saya menerawang.

Benar saja, keduanya ditangkap berdasarkan pengaduan salah seorang yang menjadi korban. Persis seperti yang saya sampaikan satu hari sebelumnya. Dalam surat penangkapan saya membaca bahwa mereka melakukan tindak pengeroyokan yang mengakibatkan luka memar pada korban.

Saya pun segera menjenguknya. Di sana kerabat saya baru menceritakan hal yang sebenarnya terjadi. Ternyata pada pertemuan pertama saat saya mengunjunginnya telah terjadi perkelahian, namun korban tidak melaporkan. Kemudian keesokan harinya terjadi lagi perkelahian yang akhirnya menyebabkan korban memperkarakannya ke kantor kepolisian. Akibat perbuatan tersebut keduanya terpaksa harus menginap di hotel prodeo selama beberapa hari.

Dengan beberapa temannya saya berusaha mencari penyelesaian agar keduanya tidak ditahan. Mencari korban dan meminta penyelesaian secara damai. Penyelesaian damai dapat ditempuh jika korban menarik surat pelaporannya ke kepolisian. Pada awalnya korban keberatan dan mengajukan persyaratan yang tidak proporsional sebagai kompensasi pencabutan laporan. Namun setelah didesak beberapa hari akhirnya korban pun setuju.

Kepolisian pun meminta kami menandatangani surat penangguhan penahanan sebagai prosedur pencabutan pelaporan dan penyelesaian masalah. Ujung – ujungnya mereka meminta penjaminan uang dengan besaran tertentu. Dalam beberapa jam kedepan, hari ini, dipastikan keduanya bisa kembali ke keluarga mereka.

Ini betul – betul tragedi buat mereka. Inilah puncak dari ketidakmampuan mereka mengendalikan emosi - tidak dapat menahan diri. Lepas dari apa yang mereka lakukan demi mempertahankan harga diri dan pembelaan, tetap saja cara yang mereka lakukan adalah masuk pada tindak pidana yang ancamannya adalah ditahan.

Mencegah kemungkaran dengan kemungkaran adalah sebuah kezaliman. Persis dengan yang dilakukan oleh FPI (Front Perusak Islam – sebagai plesetan dari Front Pembela Islam) terhadap jamaah Ahmadiyyah di Bogor beberapa waktu lalu. Terus – terang saya sangat “sumpek” dengan orang – orang yang mengatasnamakan agama melalukan tindakan yang memalukan seperti itu. Ini kejadian yang kesekian kalinya dilakukan oleh FPI. Islam menganjurkan kepada pemeluknya untuk menyeru kebaikan dengan kata – kata hikmah dan berdialog dengan cara yang baik.

Di kepolisian,saya sempat bicara dengan kerabat saya tersebut dari hati ke hati. Saya mengenalinya dengan sangat baik. Kami hidup dan besar di tempat nenek bersama – sama. Saya kenal betul bahwa dia orang yang tidak bisa menguasai diri, keras kepala, cenderung mengikuti emosi daripada bertindak hati – hati. Dahulu saat masih kecil dia adalah salah satu yang sering membuat nenek kesal dengan tingkah lakunya.

Saya sungguh sedih melihatnya. Jika ia banyak menghabiskan hidup seperti ini. Saya bilang, “Seandainya saja amarah itu bisa berbentuk, maka saya bisa memastikan bahwa amarah tersebut telah benar – benar menyiksanya selama bertahun – tahun. Mungkin amarah tersebut sudah sangat besar,” ujar saya. Dia pun hanya terdiam saja.

Saya membayangkan betapa “seramnya” amarah jika ia bisa berwujud. Saya tahu pasti sangat sulit merubahnya jika ia tidak benar – benar menginginkannya. Amarah tersebut sudah menguasai dan menjadi bagian dari hidup dan pemikirannya. Saya memintanya untuk berpuasa dan memohon petunjuk kepada Allah SWT agar dia bisa mengatasi permasalahan yang dihadapi dengan lebih tegar.

Saya kembali merenung, bahwa saya pun pernah mengalami ketika saya tidak bisa lagi mengendalikan emosi. Percekcokan dan pertentangan menjadi media yang sangat disenangi oleh amarah. Ketika terjadi pertengkaran, orang tidak lagi melihat pada substansi persoalan, melainkan ia hanya melihat kebenaran pada dirinya sendiri saja. Kehormatan dan harga diri menjadi sisi yang sangat sensitif yang mendorong (trigger) amarah naik bahkan hingga terjadi tindak kekerasan yang melampaui batas. Berita – berita kriminal yang kerap muncul di TV banyak merekam peristiwa seperti ini.

Dalam hadits ghadab (marah) Imam Khomeini mengutip dari Ibn Maskawayh (Ahmad bin Muhammad) dalam bukunya Thahharat al – A’raq, Secara deskriptif menggambarkan amarah sebagai berikut:

"Marah, sesungguhnya adalah gerakan jiwa yang menyebabkan terjadinya pergolakan darah didalam jantung, yang menimbulkan keinginan untuk membalas dendam. Saat pergolakan ini menjadi semakin keras, ia memperkuat api kemarahan. Pembuluh nadi dan otak dengan semburan asap hitam, yang dengan itu menyebabkan pikiran dan akal kehilangan kendali dan menjadi tidak berdaya.

Pada saat itu, sebagaimana pendapat hukama’, keadaan jiwa seseorang menyerupai sebuah lubang tempat api meletup mengisi lubang itu dengan nyala api dan meniupkan gumpalan asap yang menyembur ke luar mulutnya dengan panas yang hebat dan ledakan kemarahan. Ketika hal itu terjadi, menjadi sangat sulit untuk menenangkan orang seperti itu serta sulit memadamkan api kemarahannya. Apa pun yang dilakukan orang untuk mendinginkan suasana, maka orang seperti itu menjadi buta terhadap kesopanan dan tuli terhadap petunjuk. Dalam kondisi semacam itu, tidak ada harapan baginya.”

Sebagaimana potensi dari Tuhan lainnya sesungguhnya amarah adalah hal yang positif. Pada dasarnya ia adalah sebuah kebaikan seperti juga hawa nafsu dan lainnya yang datang dari Tuhan. Namun ia harus dalam proporsinya – tidak lebih, tidak kurang. Kekurangan amarah akan menjadikan manusia pengecut, malas, cemas dll. Sebaliknya kita telah tahu bahwa ada banyak keburukan yang diakibatkan oleh amarah seperti pembunuhan dll.

Saya menyarankan jika ingin mengetahui dampak dari keduanya saya anjurkan anda membaca buku hadits Imam Khomeini tersebut yang merupakan hadits ketujuh dari pembahasan Arbauna Haditsan – salah satu buku etika terbaik yang pernah saya baca. Dalam buku tersebut Imam tidak saja sekedar memaparkannya namun ia juga memberikan langkah – langkah terapi untuk mengatasinya.

Saya bersyukur bahwa Allah SWT mensyariatkan puasa setiap tahun di bulan Ramadhan selama sebulan. Perpektif saya mengenai puasa menjadi baru. Puasa bukanlah untuk membebani kita, sebaliknya ia akan meningkatkan derajat kemanusiaan kita. Menjadikan manusia bertaqwa.

Dengan demikian puasa adalah salah satu pertolongan (imdad) dari Allah untuk membimbingnya menjadi manusia yang paripurna. Puasa adalah bagian dari cara Tuhan membimbing mahluknya melompat untuk mencapai tingkat kesempurnaan. Betapa berbahayanya jika di muka bumi ini dipenuhi oleh orang – orang yang dikuasai oleh amarahnya seperti Bush, Shimon Perez, Taliban, dll.

Saya ingin menutup blog ini dengan sebuah hadits yang saya kutip dari buku Arbauna Haditsan, Imam Khomeini qs.

Maysir meriwayatkan bahwa suatu saat dibahas soal marah di hadapan Imam Al – Baqir as. Beliau berkata:” Sungguh, bisa jadi seorang yang marah tidak akan puas hingga ia masuk ke neraka. Maka, barangsiapa marah kepada seseorang hendaknya ia segera duduk bila ia sedang berdiri. Karena, sesungguhya, hal itu akan menolak kotoran – kotoran setan. Dan barangsiapa marah kepada seseorang diantara keluarganya, hendaklah ia mendekatinya dan menepuknya, karena perasaan kekeluargaan, bila dirangsang dengan sentuhan, akan menyebabkan ketenangan” (dari kitab Ushul Kafi).

* Ilustrasi: burning by Paulos.tranby Paulos.tran

0 komentar:


 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Web Hosting Coupons