javascript:void(0)

09 March 2005

In Memoriam Aba Hasan Kamal

"Dengan nama Allah, atas perkenan Allah dan diatas lintasan agama yang dibawa oleh Rasulullah Saw. Ya Allah (ia kini tengah) menuju ke rahmat - Mu, bukan menuju ke azab - Mu. Ya Allah, lapangkanlah dalam kuburnya, bimbinglah ia dalam berhujjah, dan kukuhkanlah ia dalam menyampaikan qawl tsabit serta lindungi kami dan ia dari siksa kubur"

(Doa saat menghantarkan jenazah ke liang lahat)

Masih teringat saat Aba Hasan, pamanku, menceritakan bagaimana ia menjemputku dari kediaman mama pada saat aku berumur satu tahun beberapa tahun silam. “Asal kamu tau saja fiq,… tiap kali kami menjemputmu dari rumah mamamu, kamu selalu saja menangis dan sulit diam. Kalo sudah begitu, maka terpaksa kami harus mengajakmu berkeliling dengan sepeda motor mengelilingi daerah sekitar Cililtan – Kramat Jati. Baru kalo tangismu sudah reda, kami langsung titipkan ke tempat nenek,” begitu Abah Hasan menceritakan masa – masa kecilku. Bersama isterinya almarhum bibi Jarinah, mereka menjadi perantara antara ayah dan mamaku dalam hak pengasuhan.

Orangtuaku berpisah saat aku masih sangat kecil. Menurut cerita yang aku dengar dari mama, sebenarnya tak ada perbedaan yang sangat prinsipil yang menyebabkan mereka harus berpisah. Namun mereka tetap memilih untuk itu, dalam usia perkawinan yang relatif masih sangat muda. Usai perpisahan tak lama kemudian mereka menikah kembali dengan orang lain, dan masing – masing memiliki keluarga baru. Sementara aku harus tinggal dan menghabiskan masa kecilku bersama nenek tercinta hingga usiaku mencapai 23 tahun.

Pada masa kecilku itu, kadang satu minggu aku tinggal di tempat nenek dari ayah di Condet, dan baru seminggu kemudian nenek dari ibuku sering menjemputku untuk tinggal di rumah mama di sekitar Kebon Nanas. Abah Hasan - lah orang yang sering disuruh ayah untuk menjemputku di tempat mama. Dalam beberapa kesempatan bibi sering mengulang menceritakan hal ini kepadaku, jika aku berkunjung ke tempatnya di Pasar Rebo.

Hari ini, tepat usai Maghrib, datang kerabatku mengabarkan bahwa Abah Hasan telah berpulang ke rahmatullah. Innalillahi wa inna ilaih rojiun. Sebelumnya aku tak mendengar kabar apapun tentangnya. Aku sangat sedih, apalagi menurut kerabatku ia menderita sakit selama lebih 4 hari sebelum wafat, dan akibat karena ketidaktahuan, tak sekalipun aku menjengungnya. Tak ada satupun dari sepupuku yang mengabarkan keadaaannya kepadaku.

Ia salah seorang yang aku kenal sangat sabar, tenang, dan tidak banyak bicara. Ia lebih memilih banyak tersenyum. Kalau berbicara ia lebih banyak tersenyum, tentu dengan senyumannya yang khas. Senyuman inilah yang masih teringat terus di benakku.

Ia orang yang sangat baik kepada keponakan – keponakannya. Sebagai satu – satunya kakak dari ayahku, ia pun satu – satunya saudara dari ayahku – nenek hanya memiliki dua orang anak dari dua perkawinannya. Abah Hasan satu ibu dengan ayahku. Berbeda dengan ayahku yang cenderung keras, Abah Hasan memiliki karakter yang simple. Ia mewarisi sifat – sifat nenek yang cenderung praktis.

Malam ini, sambil diiringi CD instrumental Vanessa Mae, violist, terutama lagu Winter (Il Largo) benar – benar membantu mengingatkanku akan kenangan kebaikan Abah Hasan. Tak sekalipun aku melihatnya marah atau menunjukan sikap emosional dalam menangani sesuatu termasuk kepada anak – anaknya (sepupuku). Ia sangat sabar dan pemaaf.

Terakhir aku bertemu dengannya beberapa bulan yang lalu, saat kembali dari kunjungan ke suatu tempat di daerah Pasar Rebo. Kami berbincang – bincang sebentar saat itu. Abah Hasan termasuk salah seorang yang dikaruniai oleh Tuhan, wajah yang awet muda. Walaupun usianya telah mencapai usia 60 tahunan, namun wajahnya tak menunjukan usia tua. Sejak ditinggal isterinya yang wafat sekitar dua tahun lalu, Abah Hasan memang memilih tidak menikah lagi. Hari ini tepat pada waktunya, ia menyusul isterinya menghadap ilahi.

Seingatku, tahun – tahun terakhir yang aku kenal, dia memilih lebih banyak beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sering malam – malamnya ia habiskan untuk beribadah. Sampai – sampai karena seringnya ia beribadah, ia mendapatkan “sesuatu” yang membantunya dapat mengenali kecenderungan karakter orang – orang tertentu. Biasanya jari – jarinya akan serta merta menunjukan tanda – tanda tertentu, jika aku tanyakan tentang karakter orang. Beberapa kali aku sempat berkonsultasi kepadanya dan menguji kebenarannya.

“Beristirahatlah Abah Hasan. Selamat berkumpul dengan nenek. Sampaikan salamku kepada nenek yang amat aku sayangi yang telah mengasuh dan membimbingku melewati tahun – tahun perkembangan kehidupanku. Semoga Allah SWT menaungi makam kalian dengan ampunan dan rahmat – Nya yang amat luas karena kebaikan – kebaikan yang telah kalian berikan. Semoga pula kalian mendapatkan syafaat dari Rasulullah dan Ahlil Bayt – nya. Kalian telah memberikan kasih sayang kepada salah seorang dari cucu mereka.”

Siang ini kami mengantarkannya ke peristirahatannya yang terakhir, di sebuah pemakaman Kapling, Pasar Rebo. Selamat jalan, paman!

(Siaga Dalam, Pejaten Barat, 08 Maret 2005)


Ilustrasi: Tender love...compassion...care"" by Atinirdosh

3 komentar:

aliza said...

yang menjadikan manusia sebagai apa-apa yang ia gantungkan harapan kepadanya jelas akan kecewa pada hal-hal yang akan ia temui dikemudian hari, semoga Allah mempercepat kehadirannya.

aliza said...

apa yang diharapkan manusia dengan menulis hal yang ia ketahui padahal pengetaguannya tentang hal itu tidak lebih dari sebesar titik hitam dalam kolam susu yang merusak murninya kolam tersebut, semoga allah mengampuni apa2 yang kita perbuat dengan alasan apapun, serta semoga Allah mempercepat kehadirannya.

adhy said...

bro ... aku ikut bertakziah ... sungguh kebenaran dan kebatilan teramat jelas bagi mereka2 yg berfikir .... manifestasi rasa cinta padaNya adalah melalui manusia2 terkasihNya ... kecintaanmu terhadap pamanMu sungguh membuatNya tersenyum ...:)


 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Web Hosting Coupons