"Saya akan tunjukan kepada Anda," jawabnya ramah. Lalu kami berjalan beriringan. Ia balik bertanya asal dan tujuan kami berkunjung. Sama seperti kami rupanya Markus pun baru saja pulang dari buchsmesse (pameran buku). Ia seorang dosen filsafat di salah satu universitas di Frankfurt.
Dengan antusias dan mimiknya yang sedikit serius, ia menceritakan latarbelakang beberapa tempat yang kami temui di pusat kota. Ada hotel terbesar di Frankfurt, tempat kelahiran Goethe sang sastrawan, dan filosof yang sangat terkenal.
Goethe memiliki posisi yang amat sentral di Frankfurt karena Goethe besar, dan hidup di sana. Hingga tepat di jantungnya kota Frankfurt. Di tempat ini beberapa tahun silam, dalam perang dunia kedua semuanya hancur lebur, hanya beberapa bagian depan gereja yang dibangun pada abad 13 yang masih sedikit utuh. Kini tempat yang menurut Markus hancur total hingga 90% akibat bom pada perang dunia itu dibangun kembali dengan beberapa bangunan yang menarik banyak turis.
Markus hanyalah salah satu dari cerita keramahan yang saya temui dengan masyarakat Jerman. Selama hampir seminggu tinggal di sana saya banyak menemukan keramahan dan pedulinya mereka terhadap orang lain. Sesuatu yang pada mulanya saya fikir sebaliknya: arogan, kurang ramah, under estimate dll. Ini merubah pandangan saya yang sangat streotype tentang masyarakat Jerman yang kaku dan kurang bersahabat.
Saya menduga keramahan dan antusiasme terhadap orang asing adalah bagian dari kampanye tourisme. Namun tetap saja saya bisa merasakan kejujuran, dan niat tulus mereka membantu.
Akhirnya setelah setengah jam mengajak kami berkeliling, Markus pun izin pamit pulang. "Saya harus segera pulang. Isteri saya orang Rusia. Saya paham betul bagaimana rasanya menjadi orang asing seperti anda di sini," tambahnya.
Pengalaman hampir seminggu di negeri yang masuk kategori negara maju ini, saya mendapatkan beberapa pelajaran, terutama terkait dengan bagaimana membangun budaya masyarakat. Rasanya kita perlu bekali anak-anak kita bagaimana mereka memiliki keterampilan hidup (life skills), hidup bermasyarakat, menghargai hak-hak orang lain, dll.
Saya pikir ini bukan persoalan sepele, namun sayangnya seringkali diabaikan dalam pendidikan kita. Mata pelajaran moral, etika, ahlak nyaris hanya menjadi kumpulan teks yang harus di hapal. Kita seringkali lebih mementingkan diri kita sendiri, dan mengabaikan hak orang lain. Sekolah kita sering gagal mengajarkan perilaku yang baik dan agama hanya menjadi teks-teks hafalan saja.
Markus memberi saya sebuah cermin baru. Di tengah bingungnya kami melihat sudut-sudut kota, dalam hati saya bergumam, "Markus, anda seperti seorang malaikat yang Tuhan kirimkan kepada kami menunjuki tempat-tempat yang indah di sini". Subhanallah.







