Thursday, October 23, 2008

Malaikat itu Bernama Markus

"Dimana kami bisa menemukan kota tua di Frankfurt?", tanya kami kepada Markus, seorang pejalan kaki saat menyeberang jalan. Usai berkeliling setengah harian di hall pameran yang besarnya satu hall-nya setara dengan JHCC (ada 10 hall di sana), Jakarta, rasanya kami perlu meredakan ketegangan. Malam itu kami melihat-lihat kota Franfurt di temaram malam. Kebetulan hotel tempat kami tinggal berdekatan dengan stasiun kereta api bawah tanah, Haubanhof.

"Saya akan tunjukan kepada Anda," jawabnya ramah. Lalu kami berjalan beriringan. Ia balik bertanya asal dan tujuan kami berkunjung. Sama seperti kami rupanya Markus pun baru saja pulang dari buchsmesse (pameran buku). Ia seorang dosen filsafat di salah satu universitas di Frankfurt.

Salah satu yang mengejutkan saya adalah, ia tidak sekedar menunjukan arah yang kami tuju, namun mengajak kami berkeliling menyusuri beberapa tempat dan menjelaskan bangunan-bangunan tua yang ada. Gaya tuturnya lembut dan sangat bersahabat.

Dengan antusias dan mimiknya yang sedikit serius, ia menceritakan latarbelakang beberapa tempat yang kami temui di pusat kota. Ada hotel terbesar di Frankfurt, tempat kelahiran Goethe sang sastrawan, dan filosof yang sangat terkenal.

Goethe memiliki posisi yang amat sentral di Frankfurt karena Goethe besar, dan hidup di sana. Hingga tepat di jantungnya kota Frankfurt. Di tempat ini beberapa tahun silam, dalam perang dunia kedua semuanya hancur lebur, hanya beberapa bagian depan gereja yang dibangun pada abad 13 yang masih sedikit utuh. Kini tempat yang menurut Markus hancur total hingga 90% akibat bom pada perang dunia itu dibangun kembali dengan beberapa bangunan yang menarik banyak turis.

Markus hanyalah salah satu dari cerita keramahan yang saya temui dengan masyarakat Jerman. Selama hampir seminggu tinggal di sana saya banyak menemukan keramahan dan pedulinya mereka terhadap orang lain. Sesuatu yang pada mulanya saya fikir sebaliknya: arogan, kurang ramah, under estimate dll. Ini merubah pandangan saya yang sangat streotype tentang masyarakat Jerman yang kaku dan kurang bersahabat.

Saya menduga keramahan dan antusiasme terhadap orang asing adalah bagian dari kampanye tourisme. Namun tetap saja saya bisa merasakan kejujuran, dan niat tulus mereka membantu.

Akhirnya setelah setengah jam mengajak kami berkeliling, Markus pun izin pamit pulang. "Saya harus segera pulang. Isteri saya orang Rusia. Saya paham betul bagaimana rasanya menjadi orang asing seperti anda di sini," tambahnya.

Pengalaman hampir seminggu di negeri yang masuk kategori negara maju ini, saya mendapatkan beberapa pelajaran, terutama terkait dengan bagaimana membangun budaya masyarakat. Rasanya kita perlu bekali anak-anak kita bagaimana mereka memiliki keterampilan hidup (life skills), hidup bermasyarakat, menghargai hak-hak orang lain, dll.

Saya pikir ini bukan persoalan sepele, namun sayangnya seringkali diabaikan dalam pendidikan kita. Mata pelajaran moral, etika, ahlak nyaris hanya menjadi kumpulan teks yang harus di hapal. Kita seringkali lebih mementingkan diri kita sendiri, dan mengabaikan hak orang lain. Sekolah kita sering gagal mengajarkan perilaku yang baik dan agama hanya menjadi teks-teks hafalan saja.

Markus memberi saya sebuah cermin baru. Di tengah bingungnya kami melihat sudut-sudut kota, dalam hati saya bergumam, "Markus, anda seperti seorang malaikat yang Tuhan kirimkan kepada kami menunjuki tempat-tempat yang indah di sini". Subhanallah.

Wednesday, October 22, 2008

Sekejap

Selasa pagi seperti biasa aktivitas rutin kembali berjalan. Pagi benar, saya sudah harus mengantar anak - anak, Zahra dan Muhammad, ke sekolahnya masing-masing. Setelah itu men-drop isteri ke kantornya di Jl. TB Simatupang. Tiba di kantor diteruskan dengan rapat marketing mingguan. Siangnya mengunjungi unit usaha baru yang sedang dirintis-semoga semuanya diberikan kemudahan.

Hampir tak ada jeda setelah kembali dari Frankfurt semalam. Dalam kendaraan saya termenung, rasanya seperti mimpi. Begitu cepat fragmen waktu berjalan. Kata yang lebih tepat adalah "sekejap". Pengalaman baru mengunjungi Frankfurt, salah satu kota terbesar di Eropa seperti lewat begitu saja. Sedikit shock culture.

Memang sudah seharusnya begitu, hidup harus jalan terus. Melangkah ke depan. Bolehlah sedikit menengok kebelakang untuk bisa melihat kekeliruan agar tidak terulang di perjalanan berikutnya.

Rasanya baru kemarin pagi kami masih sibuk naik trem dari hotel menuju buchsmesse, pameran buku terbesar dunia di Franfurt, Jerman. Mengunjungi kastil di Heidelberg, tempat benteng peperangan yang dibangun pada abad 13. Merasakan dinginnya suhu udara 3-5 derajat celsius, sarapan ikan yang "manyus". Sekarang belum genap 24 jam saya sudah ada di Jl. Salihara. Menggelinding melaju begitu saja.

Mengingat semua ini benarlah seperti yang pernah saya baca, apa pun kenikmatan dan kesulitan yang ada di sini semuanya hanya sementara. Setelah di beri kesempatan menyaksikan salah kota di Eropa yang sangat antik, kuno dengan masyarakat yang hidup teratur, prasarana yang memberi kesempatan manusia untuk hidup praktis tersedia. Kota yang tertata rapi, sarana transportasi yang sangat modern, bebas macet, serba computerised. Yang ada dipikiran hanyalah bagaimana bisa menikmati semua kenyamanan yang disediakan.

Panjangnya rute perjalanan dari Franfurt ke Jakarta yang di tempuh hampir 14 jam juga sedikit membingungkan. Berangkat dari Jakarta malam hari, terus malam yang panjang diperjalanan ke Frankfurt. Sebaliknya saat arah balik sedikit malam, namun siang yang panjang dari Frankfurt ke Jakarta, karena adanya perbedaan geografis. Sekali lagi seperti mimpi saja. Sekejap.

Berkunjung ke Frankfurt Buchs Messe adalah agenda tahunan yang jauh hari telah di rencanakan sejak dua tahun lalu. Baru tahun ini akhirnya kami bisa pergi. Tempat yang sangat penting untuk penerbit seperti kami yang banyak menterjemahkan buku-buku berbahasa asing untuk bertemu secara langsung, dan melakukan kerjasama dengan penerbit besar seperti Harper Coolins, Random House, Simon&Schuster, Orion, dan beberapa literacy agent.

Mengingat begitu pentingnya acara tersebut, tahun depan sudah harus dialokasikan dana untuk ke sana kembali dengan persiapan yang lebih matang. Namun sebelum diberi kesempatan ke sana lagi, paling lambat tahun depan saya harus sudah berkunjung ke tempat lain yang meninggalkan kenangan yang lebih dalam, tidak sekejap. Tempat itu adalah tanah suci, Mekkah dan Madinah, untuk berziarah, membuktikan kecintaan kepada-Nya dan rasul-Nya.

Welcome home Jakarta. Kangen dengan macetnya Jakarta. Mudahnya mencari makanan yang halal. Ketidakteraturan yang dinamik. Dekatnya dengan orang-orang yang kita sayangi.

Monday, October 06, 2008

'Idul Fitri 1429H: Reborn

Usai sudah Ramadhan 1429 H. Suara bedug serta gema takbir berbunyi keras seolah saling bersahutan. Dentum mercon memecah malam di beberapa tempat. Sementara kembang api berwarna-warni menghiasi langit.

Malam itu, malam terakhir Ramadhan, saya hanya bisa termenung, tak berbuat banyak, seolah tak percaya begitu cepatnya Ramadhan berlalu. Menyesakan dada, menyesal mengingat sangat sedikit amal yang telah saya berbuat. Itu pun saya lakukan dengan cara-cara yang tidak khusyuk dan tunduk. Ibadah yang didorong karena keterpaksaan bukan karena cinta.

Sehari sebelumnya pesan di inbox sudah mulai banyak yang masuk menyampaikan ucapan selamat Idul Fitri. Pembantu di rumah pun sudah pulang ke kampung halamannya. Jadi tak salah lagi Ramadhan tahun ini memang telah usai.

Namun saya tetap masih terdiam tak berbuat apa-apa. Sambil berfikir? Bingung? Mau kemana setelah Ramadhan-quo vadis?

Saya termasuk orang yang selalu terkesan dengan Ramadhan. Alhamdulillah, setidaknya beberapa tahun terakhir saya mendapatkan banyak kesan tiap kali melewatinya. Selalu saja ada hal yang menjadi kenangan. Termasuk Ramadhan kali ini. Entah bagaimana harus mengucapkan rasa terima kasih kepada-Nya.

Salah satu anugerah yang paling besar yang saya dapat adalah kembali bisa mengikuti kajian Hadits 40 Imam Khomeini tiap pagi usai Shubuh selama Ramadhan-tahun ini masuk tahun ketiga. Selama 3 tahun itu kami baru menyelesaikan 10 hadits saja. Berarti masih ada 30 hadits lagi yang masih harus di bahas, dan direnungkan dalam - dalam. Inilah buku terbaik yang pernah saya baca. Juga mendapatkan pencerahan agama yang luar biasa dari Ust. Ibrahim. Mengisi malam-malam Laylatul Qadr, malam 19,21, dan 23 Ramadhan bersama Ayatullah Ja'far Hadi di ICC Alhuda. Mudah-mudahan di tahun depan saya dapat mengikutinya kembali dengan kualitas yang lebih baik.

Ramadhan kali ini juga menguatkan niat saya untuk secara serius terus memperbaiki diri. Saya merasa seperti masuk karantina selama satu bulan. "Belajar taqwa", kata Ayatullah Ja'far Hadi dalam khotbah 'Id-nya di ICC Alhuda". Mengingat taqwa-lah yang sesungguhnya menjadi ciri para pengikut Ahlil Bayt as. Bekal dan gelar taqwa meniscayakan jalan keluar dan solusi dari Allah SWT atas seluruh persoalan yang kita hadapi. Tidak itu saja kita juga akan mendapat rezeki dari jalan-jalan yang tidak terduga-demikian janji-Nya dalam salah satu ayat Alquran.

Jadi taqwa kepada Allah, bukannya sedekah yang menjadi solusi hidup kita. Meraihnya tentu meniscayakan ilmu dan amal shaleh. Saya jadi ingat sosok ulama muda yang kerap mengkampanyekan sedekah sebagai solusi hidup. Padahal sedekah hanyalah salah satu bagian saja dari ketaqwaan. Saya membacanya seperti ada pendegradasian makna dan konsep tentang solusi hidup orang beriman.

Masa training dan belajar taqwa tahun ini telah usai selama 1 bulan. Siap tidak siap kini saya harus menghadapi tantangan hidup yang sesungguhnya yang jauh lebih besar. Jujur secara pribadi saya agak pesimis jika mengukur kemampuan saya menghadapi seluruh bala tentara setan yang kini menyebar dengan berbagai media: TV, Internet, dll. Namun, keyakinan dan harapan akan rahmat-Nya membuat saya terus termotivasi dan yakin akan diberikan kemudahan melaluinya.

Salah satu tahap yang paling kritis adalah menjaga irama kedekatan dengan-Nya pasca 'Id hingga satu bulan berikutnya. Irama ibadah dan kekhusyukan harusnya tetap terjaga dalam medan pertempuran yang sesungguhnya selama 11 bulan ke depan.

Mengingat ini betapa indah dan sayangnya Allah SWT memberikan ruang waktu, dan bimbingan kepada hamba-Nya menghadapi medan hidup yang kadang sering menggoncangkan jiwa-jiwa manusia. Sebagian ruang-ruang kosong jiwa dan ruh telah diisi. Namun masih banyak celah, dan lubang yang harus ditutupi.

Kesadaran telah muncul, perlahan makin menguat di hati. Kesadaran bahwa hanya Dialah yang abadi, kewaspadaan betapa musuh-musuh jiwa, dan ruh terus menerus berusaha membelokan arah perjalanan sejati-keseriusan (tawajjuh) menuju kepada-Nya. Bala tentara setan tak berhenti beristirahat mengelincirkan orang-orang yang belum mantap keimanannya.

"Ilahi di hari ini ku bermohon padamu,
Ampunilah dosa dan kesalahan kami
Juga kedua orangtua dan saudara kami
Perkokohlah iman dan keyakinan kami hanya kepada-Mu
Bimbinglah kami mengikuti jejak para kekasih-Mu, Rasulullah dan Ahlil Bayt-nya yang suci"


Ilustrasi: Dirty/Clean by Vuhlser

Friday, September 26, 2008

Melewati Tembok

"The brick wall are there for reason"
(Randy Pausch - Last Lecture)

Kalau boleh menilai diri sendiri, saya termasuk orang yang cukup bisa meredam kemarahan. Kecuali dalam situasi-situasi yang mutlak memerlukan kemarahan, biasanya saya akan marah dengan sadar. Walaupun kerap pula saya lepas kontrol dan sulit mengendalikannya.

Beberapa waktu lalu misalnya, saya menghadapi situasi yang membutuhkan ekstra kesabaran. Saat itu saya membuat perjanjian dengan seseorang. Untuk memenuhi janji itu saya telah membatalkan pertemuan dengan lainnya yang dari sisi material cukup bernilai. Namun sampai waktu yang telah ditentukan ternyata orang tersebut membatalkannya begitu saja pada detik terakhir.

Orang itu mencoba menjelaskan mengapa tidak bisa memenuhi janji yang telah ditentukan. Buat saya, alasan yang disampaikan sungguh tidak beralasan. Dengan semua yang telah saya lakukan harusnya ia mau menghargai untuk bertemu.

Rasanya mau marah dengan sikapnya tersebut. Saya coba redam kemarahan tersebut dengan cara menyampaikan kekecewaan melalui pesan pendek (SMS). Saya mencoba menerima alasannya, betapapun itu sangar absurd buat saya. Pada saat itu, saya mencoba merenung dan berusaha mencari hikmah, dan alasan-alasan yang dapat menguatkan ketidakhadirannya.

Akhirnya, saya dapat beberapa pelajaran. Kadang-kadang memang kita harus berani melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain. Tidak cukup sampai disitu, juga memahami keberagaman sikap seseorang. Orang yang cukup dewasa harusnya jauh lebih independen memutuskan sikap, terlepas dari penilaian orang sekitarnya. Begitu banyak orang yang tiap kali mengambil keputusan yang baik, namun terhambat oleh paranoia penilaian orang lain, yang kadang sebenarnya hanya fatamorgana yang muncul dipikiran. Kadang sesungguhnya paranoia itu tidak eksis, kalaupun ada intensitasnya juga amat kecil.

Hikmah lainnya yang saya dapat, kadang untuk meraih sesuatu yang kita inginkan membutuhkan ekstra perjuangan, pengorbanan, kesabaran dll. Saya jadi ingat dengan tulisan Randy Pausch di atas. Kutipan itu saya temukan di bukunya yang sangat inspiratif, The Last Lecture. Randy Pausch adalah seorang profesor di Carnegie Mellon, penderita kanker pankreas yang di vonis hanya dapat bertahan hidup 4-6 bulan, namun karena semangat hidupnya ia dapat bertahan lebih dari 2 tahun.

Kuliahnya direkam dan dipublikasikan di youtube. Sampai saat ini videonya diakses lebih dari 7 juta orang. Ia juga masuk dalam 100 orang yang paling berpengaruh versi majalah Time. Sungguh membanggakan kami dapat menerbitkan buku yang amat bermutu ini. Sejak terbit buku ini telah mendapat banyak ulasan dari beberapa media massa di sini.

Bersama Jeffrey Zaslow, kolumnis Wall Street, Randy menulis, "Tembok yang kokoh berdiri dibuat karena alasan tertentu. Ia menjadi batasan antara orang yang hanya menginginkan, dan seseorang yang serius meraihnya. Dengan sedikit kecerdasan orang-orang yang serius menginginkan pasti dapat melewatinya".

Hari itu saya menemui sebuah tembok, dan berdiri di depannya. Saya tidak akan kembali karena hadangan tembok itu. Selalu ada celah untuk melewatinya. Dengan sedikit kecerdasan dan kesabaran seperti yang Randy sampaikan, saya yakin bisa melewatinya suatu waktu.

Pada akhirnya semuanya tergantung seberapa besar saya menginginkan sesuatu tersebut? Semakin besar saya menginginkan, saya tak peduli betapapun banyaknya tembok yang akan menghadang. Kehadiran sebuah tembok menguji, dan mengukur seberapa besar saya menginginkan sesuatu.

Ilustrasi: Passing by by Soleluna

Friday, August 08, 2008

LAMPU KUNING DARI BLOG TETANGGA

“Coba buka blog saya, ada tulisan istimewa di situ”, bunyi pesan SMS yang masuk. Pengirimnya seorang sahabat, sekaligus guru yang sangat saya hormati. Segera setelah beberapa urusan di selesaikan saya mulai membaca blog – nya.

Judulnya cukup provokatif. Melewati kalimat demi kalimat saya hanya senyum – senyum saja membacanya. Akhirnya kali ini giliran saya yang jadi cover story. Sebelumnya beberapa teman juga pernah jadi ”korban” tulisannya. Blognya termasuk laris dikunjungi orang. Dia menyebut para pengunjung blognya dengan sebutan para penziarah. Maklum, selain dikenal sebagai tokoh yang disegani dari sisi intelektual, dia juga seorang penulis kolom yang sangat produktif di sebuah majalah berita bulanan yang terbit di ibukota.

Beberapa waktu lalu saya menerima kompilasi kolom-kolomnya yang rencananya jika memenuhi kriteria akan saya usulkan jadi salah satu buku yang akan kami terbitkan. Tulisan – tulisannya segar, dan membuka mata banyak orang tentang hakikat sesuatu, terutama konsep Islam dilihat dari pengamalan sehari – hari.

Saat itu kami terpaksa menunda melanjutkannya penerbitannya dengan batas yang belum kami ketahui. Ada beberapa pertimbangan buku dapat kami terbitkan. Salah satu pertimbangannya adalah begitu sedikitnya "sentimen positif" yang bisa mendorong tulisan – tulisan itu ”kinclong” di terima publik. Bukan pada kualitas tulisannya, tapi faktor lain.

Saya melihat tulisan – tulisan itu perlu dan tinggal menunggu waktu yang tepat saja untuk menjadi "best seller", ketika bandul selera, dan kesadaran masyarakat sudah mulai ke arah berfikir substansial. Dalam istilah kami buku ini ”belum punya momentum” yang bunyi. Kalaupun mau dipublikasikan memerlukan usaha yang keras mempromosikannya. Saya telah melihat usaha ke arah itu telah dilakukannya.

Saya diantaranya yang sedang menunggu waktu yang tepat hadirnya kesadaran itu. Saya yakin waktu itu akan hadir. Lewat SMS saya menyampaikan hal ini langsung begitu membaca salah satu kolomnya.

Tentu saja tidak perlu harus menunggu terlalu lama, jika memang kita bersama mendorongnya lebih cepat, maka waktunya pun akan tiba. Proses menunggu disini adalah menunggu yang aktif, meminjam istilah dari Ali Syariati, semoga Allah merahmati-Nya selalu. Dengan cara melakukan kerja nyata seperti sikap orang beriman yang menanti kedatangan sang pembebas, ”Almuntazar”, semoga Allah mempercepat kehadirannya, dengan cara kreatif beramal yang berkualitas (ahsanu amala).

Kembali ke blog itu. Hemat saya isinya cukup proporsional, satu sisi positif, dan bagian lainnya kritik membangun. Cover bothside. Yang menarik, ada beberapa komentar yang masuk dari beberapa pengunjung. Sebagian besar saya kenal. Mereka adalah teman – teman baik yang selama ini menjadi bagian dari pembentukan kepribadian saya.

Jujur saja saya tidak terlalu terfokus dengan tulisan – nya. Tulisan ini sama sekali bukanlah sebuah respon atau tanggapan atas tulisannya. Isteri saya saja yang agak "kelagapan" waktu membacanya saat saya sampaikan bahwa ada blog yang menulis tentang saya. Saya justru melihatnya dengan cara yang lain, bahwa tulisan itu adalah sebuah bentuk perhatian, kasih sayang, dan kepedulian seorang teman, sekaligus guru. Walaupun saya tetap tidak bisa mengabaikan bahwa tulisan itu mewakili persepsinya terhadap saya hingga detik tulisan itu dipublikasikan. Saya tetap menghargainya. Bisa jadi minggu, bulan, tahun depan, persepsi itu mungkin berubah lagi. Bagi saya selagi masih kita diperhatikan, apa pun itu bentuknya, berarti masih ada yang peduli terhadap kita.

Persepsi dibisa dibangun berdasarkan kedekatan dengan objek, pengalaman, dll. Semakin dekat dengan objek, maka semakin jelas kita mengenal seseorang. Sejauh apa pun persepsi orang terhadap saya, buat saya sah – sah saja. Yang paling penting adalah saya tetap menjalankan kehidupan sesuai dengan aturan, dan kewajiban. Bahasa agama, disebut sebagai taklif atau beban. Seperti saya yang punya kewajiban terhadap diri saya, keluarga, ayah, suami, orang tua, teman kantor, dll. Kita menjalankan kewajiban sesuai dengan beban yang memang kita miliki. Semakin tinggi beban itu, maka semakin tinggi pula potensi manusia yang akan terkuak. Tuhan memberikan beban sesuai dengan kemampuan yang kita miliki.

Alhasil, selagi kita tetap menghargai orang lain, menempatkan orang lain sebagai manusia yang layak mendapatkan penghargaan, hidup akan lebih berwarna. Persepsi orang anggap saja sebagai sebuah lampu kuning lalu lintas yang memberi sinyal untuk hati – hati. Selagi masih kuning, kita masih tetap bisa jalan terus.

Ilustrasi: Some people say... by Sunbeer

Friday, August 01, 2008

BROWN ENERGY, KENDARAAN PUN BISA MENYUMBANG OKSIGEN



Bayangkan, di tengah-tegah kondisi naiknya harga BBM saat ini, Brown Energy menjadi sebuah angin segar yang melegakan nafas sebagian masyarakat terutama pengguna kendaraan beroda empat
(Majalah Pengusaha, Agustus 2008)

Siapa yang tidak mengenalnya, scmua makhluk yang hidup di planet bumi ini pasti membutuhkan zat cair yang identik dengan warna bening ini. Air merupakan sumber penghidupan terbesar dalam hidup kita. Air juga lambang dari nyawa manusia, nafas dan denyut jantung kita. Bayangkan jika dalam kehidupan ini tidak ada air, betapa sengsaranya nasib kita dan tidak akan mungkin mampu bertahnn hidup,

Dari beribu manfaat air, salah satunya adalah air dapat menjadi sebuah peluang bisnis. Seperti yang sangat popular belakangan ini adalah di mana air menjadi terobosan sebagai bahan bakar. Dahulu, khalayak mcnganggap hal ini hanya sebuah isapan jempol dan mimpi belaka. Banyak yang mencemooh mana mungkin air bisa menjadi bahan bakar, mimpi kali yee?. Tapi seiring dengan kemajuan zaman fakta mengenai isu-isu yang beredar seputar Bahan Bakar Air (BBA) sudah banyak terungkap. Di tanah air sendiri belum lama ada Joko Suprapto dengan Blue Encrgy-nya yang kontroversial malah berujung pada kasus penipuan.

Di luar negeri sendiri seperti Jepang dan Inggris juga tclah mengernbangkan BBA tersebut. Indonesia pun tidak ketinggalan baru-baru ini ada sebuah inovasi BBA yang di kcmbangkan. Sebutannya Brown Energy yang merupakan campuran gas hidrogen - hydrogen - oksigen (HHO) yang dihasilkan dari sistem elektrolisa atau pengurai cairan. Dalam tabung elektrolisa itu kumparan magnctik dipasang untuk memecahkan campuran air destilasi dan soda kue hingga menjadi campuran gas HHO. Hidrogen bersifat eksplosif dan oksigen yang mcndukung pembakaran. Gas HHO ini dalam tabung elektrolisa yang dialirkan melalui slang masuk ke ruang bakar mesin dan akan bercampur dengan gas hidrokarbon dari BBM. Mengapa soda kuc bcrperan di sini? Ditelaah, jika dibandingkan dengan kalium hidroksida (KOH) yang digunakan Blue Energy, soda kue lebih ramah lingkungan, mudah didapat dan lebih murah.

Dengan menggunakan metode/cara dari Brown Energy ini kita dapat menghemat BBM. Bahkan melalui uji coba yang dilakukan pada peserta touring BBA pada sekitar 30 unit mobil dari berbagai macam jenis kendaraan dengan total jarak tempuh 105 kilometer (Jakarta-Cikarang) tingkat konsumsinya .sangat hemat sebesar 40% dibanding kendaraan yang tidak menggunakan unit elektrolisa.

Bayangkan, di tengah-tegah kondisi naiknya harga BBM saat ini, Brown Energy menjadi sebuah angin segar yang melegakan nafas sebagian masyarakat terutama pengguna kendaraan beroda empat. Sesuai dengan namanya, Brown Energy ini diambil dari nama penemunya sendiri yaitu Yull Brown yang bcrkcbangsaan Australia. Di Indonesia, kemudian dikembangkan oleh Poempida Hidayanillah dan Futung Mustari yang juga menuangkan pengembangannya ini ke sebuah buku berjudul Rahasia Bahan Bakar Air, yang diterbitkan Ufuk Publishing House (UPH) di rnana buku ini sendiri telah beredar luas di pasaran. UPH dikelola Ahmad Taufik (Taufik) dan Bakar Bilfaqih. Diawal mula usahanya yang bergerak di publishing ini mereka mencoba menjalankan beberapa proyek buku yang diminati oleh pasar. Buku-buku terbitannya ini merupakan buku-buku international best seller yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan selalu berada pada big five best seller di bukukita.com, kutubuku.com, inibuku.com Pada tanggal 1 Juni 2008 bertepatan dengan diresmikannya kenaikan harga BBM oleh pemerintah, UPH kcmbali ditantang untuk mcnerbitkan buku Rahasia Bahan Bakar Air karya Poempida dan Futung ini."Ketika kita mcmpublis/i buku ini kemudian responnya sangat besar, banyak email yang masuk hampir 50 ribuan lebih. Lalu tepat di tanggal 23 Juni 2008 kita merilis buku tersebut, ada sejumlah permintaan datang dari peminat mulai dari pemasangan alatnya sampai kita diminta untuk pclatihannya," ujar Taufik.

Buku yang dijual dengan harga Rp 40 ribu ini dilengkapi dengan VCD sebagai panduan kcrja dan pengenalan alat-alat yang digunakan. Dalam bukunya sendiri dibagi menjadi dua bagian. Yang pertama, tentang mengapa tekhnologi ini tidak berkcmbang, hal itu dijawab di buku ini. Sedangkan bagian yang kcdua adalah bagaimana langkah-langkah pembuatannya. Berkat respon yang baik dari masyarakat Taufik mencoba masuk ke bisnis baru Brown Energy. Mcnurut Taufik, saat ini BBA Brown Energy sudah mengarah pada produk nyata, walau pun belum mass product, atau masih 'home industry'. "Karena masih dalam tahap pcngcmbangan waktu itu spirit kita sebetulnya adalah mendorong masyarakat agar dapat membuat sendiri. “Tapi tcrnyata mereka malah banyak yang datang ke kita minta dibantu untuk pemasangan alatnya," tuturnya.

Untuk alat dan jasa pemasangannya dikenakan total biaya Rp 400 ribu, sedangkan harga alatnya sendiri sebesar Rp 300 ribu. Untuk pelatihan berupa seminar Rp. 15O ribu yang diadakan setiap seminggu sekali dan dibatasi hanya 12 orang setiap pelatihannya.

Dikatakan Taufik, karena sifatnya masih home industry kendalanya adalah di sparepart. Karena sparepart yang dipakai masih sangat sederhana. Scperti aquarium, mika, stainless steel dan toples, simpel sekali. Untuk solusinya, Taufik mengaku akan mencari partncr yang strategis yang lidak sckadar mencari profit saja melainkan pengembangan yang lebih jauh. Supaya ke depannya masyarakat dapat memakai alat ini sebagai terobosan dalam menghemat BBM. Dan tidak menutup kemungkinan mengembangkannya menjadi alternatif pengganti BBM. Selain itu, dampak luar biasa lain adalah ikut mcnjaga lingkungan karena produk ini bebas polusi. jadi tidak Cuma pohon, dengan brown energ mobil pun bisa menyumbang oksigen," ungkap lulusan SI Fakultas Ekonomi jurusan Managemen Keuangan, Universitas Indonesia ini.

Thursday, June 12, 2008

Resolusi 35 Tahun

Nothing endures but change
(Heraclitus)

Kata resolusi secara personal biasanya mengacu pada orang yang berkomitmen untuk sesuatu di masa depan. Resolusi sering disebut saat pergantian tahun, ulangtahun dll. Ia mengacu pada janji, dan tindakan yang akan dilakukan di masa depan mulai dari titik momentum tertentu.

Kemarin 9 Juni saya genap 35 tahun. "Ah, cepatnya waktu berjalan, sementara sangat sedikit saya beramal". Apa yang akan saya kerjakan di masa depan, paling tidak dalam jangka pendek tahun depan, dan jangka panjang di masa lima tahun mendatang. Setidaknya lima tahun ke depan misalnya, saya akan berusia 40 tahun, sebuah usia yang menurut saya sudah sangat matang secara pribadi. Saya mencoba membuat sedikit resolusi di blog ini.

Dari mana saya memulainya. Saya memulai dengan melihat apa yang telah dicapai pada titik ini. Syukur, alhamdulillah, perlahan makin baik. " Ini anak (saya maksudnya) makin pintar saja", kata salah seorang guru saya di ruang chatroom. Sebuah komentar yang menyenangkan diterima seorang murid dihadapan gurunya, walaupun secara pribadi menurut saya ini pernyataan yang sangat berlebihan.

Bagi saya pergerakan itu sebuah keniscayaan. Jadi, kalau dari hari ke tahun kita mengalami perubahan-yang merupakan efek dari sebuah gerakan- itu sesuatu yang sangat wajar dan natural saja. Apa yang saya alami, sengaja maupun tidak, juga dialami oleh siapa pun.

Pepatah kuno mengatakan, semuanya berubah, yang tetap adalah perubahan itu sendiri. Hanya saja persoalannya, apakah perubahan itu dari sisi apapun: fisik-jiwa, kuantitatif-kualitatif dll bergerak ke arah buruk-baik, cepat-lambat dll. Hanya ada dua kutub perubahan.

Saya pribadi menginginkan di tahun depan, dan lima tahun ke depan, perubahan yang saya inginkan adalah perubahan hakikat saya pribadi (jiwa) agar selalu selaras dan seiring dengan perubahan yang diinginkan-Nya. Apapun yang terjadi perubahan tetap dalam koridor-Nya. Semuanya natural secara kuantitaf, namun quantum secara kualitatif. Bahasa sederhananya saya ingin hidup secara normal-normal saja-secara fisik semakin baik tentu saja, namun secara keimanan bergerak akseleratif (sangat cepat) menjadi pribadi yang mengikuti jejak orang-orang suci dari keluarga Nabi Saaw.

Resolusi ini menjadi penting dan akan selalu saya ingat, setelah saya melihat orang yang mulanya sangat saya hormati, berpindah jalur ke arah perubahan yang mengejutkan saya. Walaupun sebelumnya ia selalu berpesan bukan hak dan tidak pada tempatnya, saya menilai diri orang lain, tapi interaksi yang cukup intens membuat saya punya rekaman sejauh mana perubahan kepribadiannya. Saya meminta pertolongan kepada Allah SWT agar melakukan hal yang lebih baik daripada yang ia lakukan.

Semuanya memang pilihan, dan saya tidak punya hak untuk menilai pilihan seseorang. Pengalaman bertemu dengannya seperti sebuah cermin besar, betapa sebuah kesejatian diri yang meningkat, sesungguhnya menuntut pula perubahan sikap yang meningkat pula ke arah yang lebih baik. Mulanya memang sebuah kesulitan, namun kita memohon pada-Nya agar hal itu menjadi bagian dari kesejatian diri kita.

Kepada-Nya saja kita selalu memohon perlindungan
Kepada-Nya saja kita mengharapkan bantuan
Kepada-Nya saja kita mengingatkan diri bahwa kita bukan "apa"
Kepada-Nya saja kita selalu mendapatkan bimbingan yang sangat halus
Kepada-Nya saja kita sadar betapa Tuhan-lah yang amat menyayangi hamba-Nya melebihi siapa pun

Ampunilah kami,
Jadikanlah kami orang-orang yang pandai bersyukur.
Tak ada kata untuk-Nya yang tepat untuk menyampaikan apa yang ingin kita utarakan. Namun kita semua percaya, Ia mengetahui lintasan yang keluar dari hati kita.


Ilustrasi: 001: One Hundred Resolutions by darque9